Memilih PT (Perguruan Tinggi)

Memilih Perguruan Tinggi

 BARU saja pusing akibat UAN yang standarnya tinggi, calon lulusan SMA dihadang masalah yang bikin tambah pusing. Mau ke mana setelah lulus? Yuk, kita pikirkan bareng. Wadoh… mau nerusin kuliah apa yaPertanyaan ini kerap terlontar begitu seragam putih abu-abu siap ditanggalkan.“Pasti bingunglah, mau masuk apa. Mau milih arsitek, teknik mesin, hukum, atau ekonomi, lulusannya sudah banyak,” kata Lala, Mahasiswi PTS. Cewek yang hobi Dengerin musik ini akhirnya sudah mendaftar ke PTS di STKIP CImahi. Namun, tetap mengharap bisa masuk Universitas Indonesia (UI) Fakultas Teknik Psikologi, sebuah jurusan yang diinginkan. Itu pun setelah “konsultasi bakat” ke seseorang di Bandung yang bisa melihat melalui tulisan tangan.Enggak salah kalau calon-calon lulusan SMA ini bingung. Sebab, yang sudah kuliah pun bisa merasa salah jurusan. Setidaknya itu yang dirasakan Aca, 19 tahun. Lulusan SMU Pembangunan Jaya, Jakarta, yang kenal dari chatting hehe.., ini sudah mengecap bangku perguruan tinggi negeri. Ia diterima di Jurusan Sastra Jepang Universitas Indonesia, namun baru satu semester merasa enggak cocok. Akhirnya, ia memutuskan keluar dan kini sedang mendaftar ke jurusan ilmu komunikasi massa di London School, Jakarta.“Waktu lulus SMU sudah pasti banget, yakin ambil sastra Jepang. Eh, setelah keterima, rasanya potensiku tidak tergali di sana. Waktu kelas dua SMU kan aku pernah ikut tes bakat, disarankan ambil disain interior atau komunikasi massa. Benar juga setelah merasakan kuliah satu semester, sepertinya jurusan komunikasi lebih menarik. Ada ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan saat memilih kuliah, seperti diuraikan berikut.Dapat perguruan tinggi (PT) yang mutunya bagus memang perlu. Tapi faktor utama yang perlu dipertimbangkan sebelum itu, kita harus tahu apa jurusan yang paling cocok dengan minat dan bakat kita. Kalau enggak, kuliah bisa keteteran. Buat yang selama ini aktif di organisasi atau ekstra kurikuler (eskul), mungkin enggak susah menentukan minatnya. Atau coba minta saran dari orang sekitar, yang mungkin bisa melihat potensi kita.Memang faktor utama yang harus dipertimbangkan adalah minat kita. Hampir bisa dipastikan tidak ada mahasiswa yang berhasil dalam studinya jika bertentangan dengan minatnya. Saran orang lain boleh dipertimbangkan. Tapi, kitalah yang akan menjalani proses kuliah bertahun-tahun ke depan. Jadi, keputusan tetap di tangan kita.Untuk yang merasa telat menggali minat selama ini, bisa datang ke lembaga psikologi terapan buat tes minat dan bakat. Arahkan pemilihan perguruan tinggi ke program studi sesuai minat dan bakat. Dari situ, cari info untuk menjajaki kira-kira dari sekian saran, mana yang kita mampu dan enjoy menjalaninya.Mengumpulkan informasi jurusan yang kita incar itu perlu. Modal nekat hanya akan membuat kita bengong di kampus, enggak ngerti apa-apa. Misalnya, mentang-mentang sekarang zamannya internet, kita main pilih jurusan Sistem Informatika. Sebab, kita merasa hobi bergaul sama komputer apalagi chatting. Selama ini senang main games dan utak-atik komputer, dipikir kuliahnya akan seperti itu. Begitu masuk kuliah, dorrr…! Kemampuan keuangan sangat menentukan pilihan. Kuliah di perguruan tinggi melibatkan berbagai komponen biaya. Mulai uang pendaftaran, uang gedung, uang kuliah pokok, uang SKS (satuan kredit semester), uang pratikum, uang ujian, uang jaket, uang buku, uang fasilitas kemahasiswaan. Belum lagi biaya indekos (kalau jauh dari rumah), biaya fotokopi, transpor, dan buku.Sebelum mendaftar, tanyakan semua biaya yang harus kita bayar dan cara pembayarannya. Ada uang gedung yang boleh diangsur beberapa kali, ada yang bayarnya lebih ringan jika tes masuk kita masuk peringkat atas. Pokoknya masalah biaya ini perlu diperhitungkan semua agar kita tak terancam putus sekolah.Tentu saja kita juga perlu memperhitungkan globalisasi, yang menuntut standar tingkat dunia. Untuk memperkaya bidang, perhatikan kemampuan berbahasa asing (bukan cuma bahasa Inggris), sampai keterampilan teknologi. Pokoknya, asah prediksi untuk mengantisipasi masa depan. Diskusi sama teman-teman dan orang yang ahli membantu kita untuk optimistis mengatur rencana.Pikirkan reputasi PT yang kita pilih. Apakah secara umum dikenal sebagai PT yang baik? Fasilitasnya lengkap enggak? Kalau perlu cari tempat kuliah yang lulusannya jadi rebutan perusahaan pemakai, atau banyak yang berhasil mandiri. Banyak pengusaha yang senang merekrut lulusan almamaternya.Untuk soal fasilitas, enggak ada salahnya kita mencoba menanyakan kapan mahasiswa berkesempatan menikmati fasilitas canggih yang disediakan. Jangan-jangan cuma beberapa kali saja, atau hanya untuk mahasiswa tingkat akhir saja.Buat yang enggak diterima di negeri, status akreditasi merupakan faktor penting dalam menilai perguruan tinggi swasta (PTS) . Sebab, ini menunjukkan mutu PTS dalam menyelenggarakan program studi. Jangan terjebak sama status disamakan dari suatu PTS. Enggak ada istilah PTS disamakan. Yang benar, status akreditasi diberikan pada program studi. Misalnya, suatu PTS punya lima program studi, masing-masing jenjang S-1 dan D-3. Perhatikan mana program studi yang dapat status disamakan, dan untuk jenjang yang mana? Kalau cuma dua dari program studi yang disamakan, bukan berarti PTS tersebut statusnya disamakan.Apa pentingnya status akreditasi? Status ini menentukan kemandirian suatu program studi dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, seperti menyelenggarakan ujian negara dan menerbitkan ijazah. Kalau sudah disamakan, mahasiswanya enggak usah lagi ikut ujian negara yang dilaksanakan Kopertis, dan ijazahnya cukup disahkan oleh PTS tempat kita kuliah.Lalu, karena kualitas keilmuan kita ditentukan juga oleh dosen, perhatikan rasio dosen yang dimiliki. Undang-undang perguruan tinggi mensyaratkan tingkat perbandingan antara dosen tetap dan mahasiswa 1:30 untuk bidang studi IPS, dan 1:25 untuk bidang studi IPA. Sebelum mendaftar, cobalah untuk mencari tahu jumlah dosen tetap di PTS tersebut. Berapa orang yang bergelar S-2, S-3, dan mungkin ada yang sudah bergelar profesor.Terakhir, pendidikan di Indonesia mengenal dua jalur pendidikan. Yaitu jalur akademik (jenjang sarjana) dan jalur profesional (jenjang diploma). Jalur akademik menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, yang profesional menekankan keahlian di bidang tertentu. Lulusan diploma dipersiapkan untuk langsung masuk dunia kerja. Jalur akademik masa kuliahnya sekitar delapan semester, sedangkan D-3 enam semester.Balik pada soal kebingungan Lala, lulusan di suatu bidang mungkin sudah jenuh. Tapi bukan berarti kita enggak bisa berhasil. Langkah awal dimulai dengan memilih kuliah yang tepat. Dengan begitu, separuh keberhasilan sudah di tangan. Ayo, semangat ya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: